Home / News / Gubernur Anies yang Bernafsu Ingin Jadi Presiden (Bahkan Sudah Merasa Presiden/ Gubernur Indonesia). Mungkinkah Karena Dendam!?

Gubernur Anies yang Bernafsu Ingin Jadi Presiden (Bahkan Sudah Merasa Presiden/ Gubernur Indonesia). Mungkinkah Karena Dendam!?

Penulis: Asep Erwin

Sang Gubernur ini mantan pecatan Menteri Pendidikan.

Hasil dari evaluasi Presiden ketika itu, kenapa sang Gubernur ini di pecat dari Menteri Pendidikan, dipastikan karena selain tidak bisa kerja alias berkinerja buruk, sang Menteri terindikasi sarat dengan KKN.

Informasi sarat KKN ini pun sempat penulis dapatkan langsung dari teman yang bekerja di Kemendikbud.

Sampai-sampai isu yang beredar di internal Kemendikbud, bahkan di para pegawai level bawah Kemendikbud beredar isu, bahwa ketika itu si penjual warung nasi makan (kantin) di Kemendikbud saja berganti jadi family sang Menteri.

Tidak hanya itu, isu tersebut semakin heboh karena harga makan di kantin pun mendadak menjadi mahal sejak berganti yang berjualan nasi adalah family dari Menteri, dan membuat para pegawai Kemendikbud berpindah tempat makan atau beralih makannya di luar kantin kantor.

Pada awal Anies terpilih sebagai Menteri Pendidikan, pada mulanya seluruh pegawai Kemendikbud menyambut dengan hangat dan memiliki harapan besar kepada seorang Anies yang akan segera memimpin lembaganya. Ketika itu, ekspektasi dari pegawai kementerian, sama halnya seperti ekspektasi penulis, dan penulis juga yakin publik secara umum begitu tinggi juga ekspektasi terhadap seorang Anies yang berharap bisa membawa Kemendikbud menjadi jauh lebih baik dan berkontribusi luar biasa terhadap bangsa melalui dunia pendidikan. Karena, kita melihat seorang Anies sebelum menjabat sebagai Menteri adalah seorang yang kita kenal sebagai salah satu tokoh yang terlihat sangat smart.

Namun, apa yang terjadi setelah seorang Anies menjabat sebagai Mendikbud, bahwa kepemimpinan Anies ternyata tidak seperti harapan ekspektasi para pegawainya di Kemendikbud. Isu yang bergulir di internal atau para pegawai Kemendikbud kalau Anies ternyata tidak bisa kerja, Anies nampak sekali kebingungan walau pun ketika itu sudah berjalan cukup lama menjabat sebagai Menterinya di Kemendikbud. Ketika para senior pegawai Kemendikbud level eselon 1, 2 dan 3 pun harus dengan sabar menuntun dan mengajarkan sang Menteri, namun yang anehnya setelahnya Menteri Anies bisa, justru mereka yang telah membantu menuntun dan mengajarkanya malah ditendangnya dan di ganti dengan orang-orang baru yang memang di datangkan oleh sang Menteri itu sendiri. Seperti itulah, sedikit informasi isu sarat KKN seorang Anies di internal atau para pegawai Kemendikbud ketika itu.

Bahkan, yang sangat nampak, ketika anggaran pendidikan begitu besar di gelontorkan oleh Kementrian Keuangan, dan diharapkan Presiden yang memberi target kepada Menteri Pendidikan saat itu, yaitu salah satunya dalam satu tahun dengan anggaran sebegitu besar itu, Presiden melalui Menteri Anies memiliki terget dan harapan besar, dibidang infrastruktur dan fasilitas sarana pendidikan, diantaranya Presiden ingin sekali memastikan dalam satu tahun itu sudah tidak terlihat lagi ada sekolah-sekolah yang bangunannya rawan roboh atau rusak, infrastruktur sekolah pun harus di bangun lebih baik, jangan sampai ada lagi anak sekolah yang harus melintasi kali dengan hanya jembatan kecil dan pegangan seutas tali, dan lain sebagainya.

Namun, kenyataan target yang di minta Presiden itu tidak terpenuhi oleh Kementrian Pendidikan yang dulu di pimpin sang Gubernur DKI Jakarta saat ini. Sekolah-sekolah yang rusak dan rawan roboh masih nampak di mana-mana, anak sekolah yang bergelayutan melintasi sungai ketika mau berangkat ke sekolah masih nampak terjadi.

Belum lagi sang Menteri ketika itu bersama kru-nya mengunjungi pameran buku sedunia di Jerman memakai anggaran yang fantastis hingga milyaran, dan bahkan kasus ini sudah di laporkan ke KPK ketika sang Menteri baru di Pecat, tapi KPK bak macan ompong dengan tidak menindaklanjuti kasusnya hingga sang Menteri Pecatan jadi Gubernur DKI Jakarta.

Kini, sang Gubernur yang menang karena jual ayat-mayat dan janji-janji palsu pun sudah memimpin 2 tahun DKI Jakarta. Namu, tidak menunjukan tanda-tanda sang Gubernur ini mampu bekerja. Mungkin, untuk kita yang berpikir rasional atau bahasa kasarnya berpikir waras hehe.. ya sangat maklum kalau dia tidak bisa kerja, namanya juga bekas pecatan yang salah satu alasan pemecatannya memang karena tidak bisa kerja hehe..

Selama 2 tahun memimpin DKI dengan APBD yang luar biasa fantastis di banding APBD ketika DKI Jakarta di pimpin Ahok. Bahkan, TGUPP dengan jumlah tim 72 orang, sangat luar biasa banyaknya. Dan yang diharapkan bisa membantu sang Gubenur dalam melaksanakan tugas-tugas atau kebijakan percepatan pembangunan DKI Jakarta, nyaris semunya tidak nampak ada hasil kerja atau prestasinya yang akan membawa perubahan DKI Jakarta ke arah yang lebih baik. Malah, mereka bisa dikatakan hanya makan gaji buta dari APBD.

Masuknya seorang Bambang Widjayanto (BW) mantan Komisioner KPK jadi terkesan kamuflase saja, agar di mata publik seakan-akan nampak para pejabat DKI ini bersih, padahal bisa saja dengan dipasangnya BW sebagai KPK DKI oleh Anies, sepertinya selain Anies sudah merasa jadi Gubernur Indonesia (rasa Presiden) karena dia membentuk KPK sendiri, juga terkesan kuat dengan di pasangnya BW harapan Anies publik akan lebih percaya kepada dirinya kalau dirinya pasti bersih dari korupsi, padahal untuk publik yang paham siapa itu BW, akan berpendapat sama dengan penulis kalau BW itu pun adalah orang bermasalah.

Jadi, justru dengan menempatkan BW ini akan ada kesan bahwa BW akan sangat bisa bersekongkol dengan penyidik KPK Novel CS yang menurut penulis juga penyidik Novel CS ini orang-orang yang bermasalah di KPK yang memiliki pengaruh begitu kuat dalam mengendalikan KPK, sehingga para Komisioner KPK yang ada sekarang pun tidak berdaya. Kan, kesannya kalau betul-betul ternyata sudah terjadi persekongkolan antara KPK DKI yang di pimpin BW dengan Penyidik KPK RI Novel CS, maka dipastikan sang Gubernur pun akan aman. Sekalipun sang Gubernur banyak sekali dari program dan kebijakannya terindikasi adanya penyalahgunaan APBD. Sang Gubernur akan tetap aman dan terlindungi dari jeratan hukum KPK. Buktinya, ketika publik begitu dengan kasat mata melihat dari setiap kebijakan sang Gubernur yang sangat kentara terindikasi dan berbau busuk korupsi KPK tetap anteng-anteng saja, malah KPK terkesan berasyik ria hanya menangkapi koruptor kepala daerah yang jauh-jauh sementara yang ada di depan mata didiamkan. Dan ini menjadikan KPK, terkesan hanya sekedar supaya terlihat di publik kalau KPK itu masih ada kerjanya hehe…

Lihat kebijakan Anies soal KJP Plus, dimana Plus-nya sementara peserta KJP semakin berkurang karena warga di bikin susah mengurusnya, juga peserta KJP Plus mendapatkannya pun tidak utuh atau malah selalu berkurang alias selalu kena potongan, pencairan KJP pun terkadang tersendat-sendat dan tidak tepat waktu, banyaklah keruwetan soal KJP Plus ini.. padahal anggaran jelas lebih besar daripada di era Ahok..

Pasukan bersih-bersih yang lebih sering di kenal pasukan orange, itu pun sama pasukannya malah berkurang, sementara kalau saja yang jadi Gubernur adalah bukan dia, sudah di pastikan pasukan orange akan bertambah 4000 orang lagi, bisa di bayangkan bagaimana Jakarta kinclongnya ketika pasukan orange bertambah 4000 orang, selain itu bisa mengurangi pengangguran warga DKI. Luar biasanya lagi, menambah 4000 pasukan orange ini bahakan tidak harus dengan anggaran yang se-fantastis Gubernur Anies sekarang ini. Apa benar bisa, ya pasti bisa kalau APBD DKI di era Jokowi Ahok itu memang benar-benar di pergunakan sesuai dengan peruntukannya, tidak ada yang bocor atau menguap begitu saja seperti di makan jin iprit. Nah, di era Anies sekarang ini sudah anggaran besar, pasukan orange malah berkurang ujungnya Ibu Kota Jakarta mulai nampak kembali ke arah ke kumuhan (kemunduran) lagi.

Ada juga omong-omong dari mereka pasukan orange, terkadang katanya gaji atau honor mereka telat cairnya juga kena potongan dengan alasan tidak jelas alias berkurang hhmm..

Belum soal kebijakan Pemprov DKI beli unit AC yang hrg per unitnya 8,4 juta alias anggaran yang begitu fantastis yang sangat tidak masuk akal.

Kebijakan berpura-pura menutup diskotik Alexis, padahal di belakang main bisik-bisik dengan pengusaha Alexis kalau Alexis tetap ada hanya berganti nama saja.

Kebijaka penerbitan 1000 IMB reklamasi secara diam-diam.

Kebijakan penutupan kali item bau dengan jaring hitam dengan anggaran 520 juta dan akhirnya di bongkar pemerintah pusat.

Kebijakan menempatkan seni patung bambu (instalasi patung bambu) dengan anggaran 550 juta, tadinya di harapkan Anies bahwa seni patung bambu ini bisa membawa namanya semakin mendunia karena di pasang saat perhelatan akbar ASIAN GAMES. Harapannya, dengan akan banyaknya masyarakat dunia yang berkunjung ke Jakarta atau masyarakat Indonesia sendiri yang akan ber-selfie ria di dekat patung seni bambu tersebut, ketika foto-foto selfie itu nantinya tersebar di medsos, maka nama Anies akan semakin populer di dunia dan akan semakin mudah untuk mencapreskan diri di 2024, dan betul saja gara-gara patung bambu itu Anies semakin terkenal karena banyak di bully netizen. Terkenal bukan karena seni patung bambu yang di anggap memang mengandung unsur seni yang inovatif, melainkan karena bentuk patung yang tidak jelas terkecuali justru patung tersebut nampak seperti orang yang sedang berhubungan intim. Belum lagi di hebohkan dengan anggarannya yang mencapai 550 juta.

Penulis pun tidak melihat unsur seninya sama sekali, malahan justru semakin merusak pemandangan Kota Jakarta. Buktinya, bagaimana publik mau ber-selfie ria di depan atau dekat itu patung, sementara bentuk patungnya saja memalukan, bahkan penulis tidak pernah melihat satu atau sedikit pun berseliweran di medsos misalnya para pengagum sang Gubernur ber-selfie di depan atau dekat itu patung, lalu dengan bangganya meng-upload di medsos dan mem-viralkannya, ternyata itu tidak ada.

Lalu, heboh juga dengan kebijakan pemeblian tong sampah dari luar negeri (Jerman) yang anggarannya sangat mencengangkan. Bahkan, diketahui pemenang tendernya beralamat di Bekasi dan setelah di investigasi jurnalis alamat Perusahaan pemenang tender tidak jelas, yang nampak hanya rumah kosong tidak ada aktivitas kantor sama sekali, lokasi masuk pun hanya jalan-jalan kecil dan sempit.

Kebijakan menanam pohon plastik di tengah-tengah trotoar yang selain tidak enak di pandang mata, juga sangat mengganggu pejalan kaki di trotoar. Ketika jadi sorotan publik, para pendukung Gubernur pun beramai-ramai membelanya dengan mengatakan kalau penanaman pohon plastik itu sudah ada sejak era Ahok, dan kenapa di era Ahok publik tidak meributkannya.. kok bisa mereka menyebutkan sudah sejak di era Ahok adanya tanaman pohon plastik itu, penulis rasanya mau ngakak.. setahu penulis tidak pernah ada di era Ahok pohon pelastik yang di tanam di trotoar, makanya publik gaka ada yang protes. Yang ada di era Ahok itu pohon-pohon yang dihiasi dengan lampu-lampu hias yang jika malam nyala itu jadi nampak indah di pandang mata.

Para pendukung Anies pun rame-rame membela Anies dengan menunjukan berita online yang kalau kebijakan tanaman pohon plastik ada sejak era Ahok, sementara nara sumber di berita hanya Anies-Sandie yang di tanya wartawan hhmm.. bahkan keluarnya anggaran untuk pohon plastik ini ada 2 versi, kan aneh bin ajaib, kalau itu terjadi di era Ahok udah pasti Ahok bisa mencak-mencak karena ada keanehan soal anggaran kenapa bisa keluar dua versi. Jadi, soal tanaman pohon plastik itu nyata-nyata hanya ada di era Anies.

Program mudik gratis anggaran hingga 14 milyar, wow.. sewa bus dan lain-lainnya apakah betul harus sampai mengeluarkan anggaran 14 milyar. Dan, rencananya setiap tahun akan di naikkan anggarannya.

Rencana merevitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) akan di anggarkan 1,7 triliun.. wow apakah rasional.

Membuat seragam Persija bagi para pegawai Pemprov. yang akan di gunakan di hari-hari tertentu dalam rangka menyupport pemain Persija, dan rencananya anggarannya pun akan di naikan setiap tahunnya… hhmm.. semuanya berbau-bau proyek yang akan dijadikan bancakan.. kalau mau support Persija kenapa tidak langsung memberikan hadiah langsung ke para atlet Persijanya supaya mereka termotivasi.

Saat ini Pemprov. DKI Jakarta juga sedang melakukan pelebaran jalan-jalan trotoar di titik-titik tertentu, dan juga pengaspalan di banyak titik jalan raya. Sepintas, penulis mengapresiasi karena ada nampak pekerjaan Pemprov. yang di pimp. Gubernur Anies untuk membangun DKI. Tapi, penulis akhirnya harus terkaget-kaget dengan pengerjaan pelebaran trotar dan pengaspalan jalan raya tersebut, karena memang seperti tidak punya blue print yang jelas dan masih sarat dengan bau-bau korupsi.

Pelebaran trotoar tanpa memperhitungkan kapasitas keramaian pejalan kaki, juga karena pelebaran trotoar juga mengambil bahu jalan raya, dan ini pun tidak memperhitungkan kalau jalan raya tersebut adalah jalan raya yang titik kepadatan kendaraannya luar biasa. Jadi, trotoar lebar tapi manfaatnya kurang karena tidak terlalu rame dengan pejalan kaki, sementara jalan raya yang kepadatan kendaraannya luar biasa malah semakin menyempit, ini kan artinya pekerjaan yang tidak profesional tanpa ada perhitungan dan perencanaan yang matang, lagi-lagi yang ada hanya kesan bau-bau busuk korupsi.

Pengaspalan jalan pun, kenapa di titik-titik jalan yang masih bagus. Selain itu, pengerukan sebelum di aspal yang panjangnya di irit-irit hanya 100 – 200 meter tapi pelaksanaan pengaspalannya bisa sampai seminggu bahkan dua mingguan, padahal kalau di era Ahok setelah pengerukan yang panjangnya hanya 100 – 200 meter dipastikan pengaspalannya satu malam saja sudah pasti kelar, atau maksimal satu sampai dua hari saja sudah pasti bisa selesai. Lagi-lagi ini jadi terkesan bau-bau busuk korupsi. Yang jelas, nampak kalau pengerjaan itu hanya sekedar supaya keluar anggaran saja, tanpa mengedepankan profesinalisme.

Soal pengelolaan sampah, anggaran fantastis luar biasa 3,7 triliun hasil nol besar, dan lagi-lagi yang ada hanya aroma bau-bau busuk bancakan korupsi .

Masih banyak kebijakan lain yang juga hanya menunjukkan keanehan-anehan pengeluaran anggaran.

Belum pelayanan di kelurahan-kelurahan pun semakin mundur, mereka dulu masih bisa melayani warga sampai jam 5 sore bahkan lebih, saat ini jam 2 siang saja para pegawai kelurahan terkadang sudaha tidak nampak alias sudah pada pulang. Yang jelas kemunduran pelayanan di kelurahan itu sangat nampak, begitu juga dengan pungli-punglinya yang menggeliat kembali.

Tidak ada prestasi kerja, sang Gubernur malah bermanuver menemui Surya Paloh Ketua Umum Partai Nasdem, dengan harapan mungkin Nasdem mendukungnya di Pilpres 2024 dan mendeklarasikan dukungannya lebih awal, seperti kebiasaan Nasdem selalu mendaklarasikan tokoh yang di dukung lebih awal. Manuver Anies berhasil menghebohkan elit dan publik, karena Anies menemui Surya Paloh di saat Megawati juga bertemu dengan Prabowo. Ditambah beredarnya pemberitaan media online yang menyimpulkan seolah-olah Surya Paloh dan Nasdem mencalonkan Anies 2024. Manuver Anies ini pun disambut dengan ragam pendapat oleh publik. Dan, publik hampir mempersepsikan seakan-akan Surya Paloh dan Nasdem memang mendukung dan akan mencalonkan Anise di pilpres 2024. Penulis malah tidak melihat itu, penulis hanya melihat kalau itu hanya manuver Anies memang dalam rangka meminta dukungan SP melalui Nasdemnya, tapi apa kata SP, kalau Anies untuk di DKI saja kinerjanya hanya punya nilai 5, artinya belum naik kelas, Nasdem akan mendukung kalau kinerja Anies punya nilai 10. Jadi, yang sebenarnya terjadi Anies minta ketemu dengan SP dengan alasan silaturahmi tapi tersirat meminta dukungan untuk pilpres di 2024. Sementara, SP sendiri menerima Anies hanya murni silaturahmi karena sebagai tokoh bangsa dan negarawan jika ada tokoh yang ingin bertemu untuk silaturahmi bahkan kalau itu musuh sekalipun dipastikan SP akan menerima dan menyambutnya dengan baik. Dan terbukti, media online detik.com meralat beritanya dengan menghapus konten yang memberitakan seolah-olah SP dan Nasdemnya mendukung Anies di pilpres 2024. SP dan Nasdem juga bukan orang bodoh, masa pilpres 2019 saja pemenangnya belum di lantik, ini kok sudah ribut-ribut mau deklarasi 2024, ini kan sangat tidak etis dan gak logis.

Bahkan, publik khususnya para pendukung Anies ada yang berpikir kalau seakan-akan SP yang mendatangi atau memgundang Anies, padahal yang betul Anies yang minta ketemu dan mendatangi SP.

Anies bolak-balik ke luar negeri tidak membawa manfaat apa-apa. Tapi, yang terakhir keluar negeri oleh pendukungnya di bangga-banggakan karena Anies sudah berhasil akan membawa event balap internasional mobil listrik yang terkenal ramah lingkungan. Oke, penulis mencoba ingin mengapresiasi apa yang dilakukan Anies, namun yang paling penting apakah nanti Gubernur siap membenahi infrastuktur Kota Jakarta, kalau dilihat saat ini mungkin masih oke-oke saja karena sisa-sisa pembangunan era Ahok masih nampak. Tapi, dilihat dari kinerja Gubernur selama 2 tahun ini yang nampak tidak ada hasil kerjanya yang membuat Jakarta semakin maju malah yang nampak ke arah kemunduran, bagaimana mungkin nanti event balap mobil listrik sekala dunia ini bisa berjalan dengan baik kalau tidak ada pembenahan Kota Jakarta dengan sebaik-baiknya. Sekarang saja polusi udara Jakarta menjadi terburuk di dunia, tanpa ada penataan kota dengan penghijauan ya dipastikan Jakarta polusinya akan semakin buruk.

Jadi, begitu nampak Gubernur Anies membawa event balap mobil listrik sekala internasional ini terkesan hanya ingin populer dan mau menyaingi Presiden karena dirinya sudah merasa Presiden, karena di elu-elukan sama pemujanya kalau dia Gubernur Indonesia rasa Presiden, atau paling tidak akan di usung sebagai capres di 2024.

Kalau jadi Gubernur tapi fokusnya bernafsu ingin jadi Presiden, apalagi di dasari karena dendam, dipastikan fokus kerja untuk DKI Jakarta akan berantakan, dan tidak akan menorehkan prestasi apa-apa. Sehingga, bukannya di 2024 bisa nyapres yang ada malah terpuruk karena tidak akan ada yang mau mengusungnya.

Jakarta, 04 Agustus 2019

~ Asep Erwin ~

About asep

Check Also

Kapal Perang AS Sandar di Tanjung Perak

SUARAKU1.COM,- Empat kapal perang Angkatan Laut dan kapal Penjaga Pantai Amerika Serikat, USS Montgomery (LCS-8), …

Leave a Reply

%d bloggers like this: