Home / News / Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti Dok Humas KKP
Susi Pudjiastuti
Susi Pudjiastuti

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti Dok Humas KKP

SUARAKU1.COM, – Konsisten hentikan penyelundupan benih lobster (BL) ilegal yang kian marak, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan pelepasliaran 173.800 BL di Bali, Sabtu (13/7/2019).

Pelepasliaran dilakukan di dua titik lokasi yaitu perairan Pulau Nusa Penida dan kawasan Nusa Dua, Bali.

BL tersebut merupakan hasil tangkapan ilegal yang berhasil diamankan oleh Ditkrimsus Tipidter Polda Lampung dan Balai KIPM Lampung melalui penggerebekan sebuah rumah di Kec. Teluk Betung Utara, Bandar Lampung, Kamis (11/7/2019).

“Penggrebekan berawal dari informasi masyarakat atas kecurigaan adanya rumah yang dijadikan tempat penampungan benih lobster.

Selanjutnya, petugas melakukan pemeriksaan dan benar ditemukan adanya BL di rumah itu,” ujar Kepala BKIPM Rina.

Dalam penggerebekan ini, ditemukan 306.650 ekor benih lobster setara dengan Rp47.352.500.000,- (empat puluh tujuh miliar tiga ratus lima puluh dua juta lima ratus ribu rupiah) yang berhasil diselamatkan.

Berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) No. 56 Tahun 2016 tentang Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan, lobster yang undersized dan bertelur tidak boleh diambil dari perairan Indonesia.

Menteri Susi menegaskan agar benih lobster tidak lagi ditangkap karena akan mengancam keberlanjutan lobster.

Hal ini dikarenakan lobster belum bisa dibudidayakan di laboratorium secara in house.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa penjualan benih lobster merugikan karena nilai jualnya terlampau kecil jika dibandingkan dengan nilai jual lobster dewasa.

“Bibit lobster diambil dan dijual dengan harga Rp3.000,-, Rp10.000,-, Rp30.000,- per ekornya. Padahal, harga satu ekor lobster kan sama dengan harga 30, 40, 50 kg ikan,” jelasnya.

Sejalan dengan hal itu, Menteri Susi berharap agar bibit lobster yang telah dilepasliarkan dibiarkan tumbuh di alam dan dipanen oleh nelayan saat sudah dewasa.

“Mudah-mudahan bisa tumbuh besar, diambil, dipanen oleh nelayan.

Tapi bukan bibitnya. Kalo bibitnya ya nanti habis lama-lama,” pesannya.

Menteri Susi menjelaskan, penyelundupan BL sebenarnya bukan fenomena yang baru. Hanya saja, selama ini praktik ilegal tersebut kurang mendapatkan perhatian sehingga menjadi praktik business as usual.

Oleh sebab itu, ia pun menaruh perhatian khusus dan menindak tegas para pelaku penyelundupan BL.

Terbukti, hasilnya pun sudah mulai terlihat saat ini.

“Dulu tidak ada yang tangkap (red: pelaku penyelundupan BL).

Dari tahun 1995, benih lobster sudah mulai diambil di Lombok, sekarang ke mana-mana. Ya kita mulai larang dan keliatan, ekspor lobster dari Vietnam turunnya jauh sekali sedangkan ekspor lobster kita mulai naik,” jelasnya.

“Saya berharap semua sadar untuk tidak mengambil bibit-bibit lobster lagi,” tandas Menteri Susi. (AE)

About asep

Check Also

Fokus di SDM, Presiden Jokowi: Pembangunan SDM Memerlukan Kehadiran Negara

SUARAKU1.COM, – Presiden Joko Widodo menjadikan pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkelanjutan sebagai fokus …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: